Bermain lagi dengan Diabetes Tipe 2

Setelah 2 tahun berhenti bermain-main dengan segala macam terkait Diabetes, akhirnya hari ini 17 Mei 2016 saya kembali membuka data penelitian dan jurmal-jurnal terkait Diabetes, Social Support, Psychological Well-Being, dan kawan-kawannya. Saya kembali mengingat fakta bahwa Diabetes adalah penyebab kematian terbesar nomor 4 di dunia, yaitu sekitar 3,2 juta kematian setiap tahunnya (Tandra, 2008) dan Indonesia tercatat sebagai negara nomor 5 di dunia dengan pasien diabetes terbanyak, yaitu 9,1 juta jiwa berdasarkan informasi Tropicana Slim *aduh jadi main merk*.

Diabetes adalah hal yang cukup dengan hidup saya dimana ayah saya adalah seorang pasien diabetes dan banyak sekali kenalan saya yang juga merupakan pasien diabetes. Salah satunya adalah Om Huti. Beliau adalah teman mami dimana keluarganya sangat sangat akrab dengan keluarga saya bahkan sampai ke orang tua masing-masing. Uci, anak beliau pun sudah saya anggap sebagai adik sendiri. Bagaimana tidak, bagi Om Huti dan Tante Endah saya sudah dianggap sebagai anak sendiri yang dirawat selama seminggu dirumahnya saat mami harus ke Bali, dinasehati apabila melakukan kesalahan, diusahakan pergi beli swikee tiap saya datang ke rumah mereka, diantar dan diusahakan kemana-kemari demi penelitian dan segala hal yang sedang saya upayakan.

Dulu yang saya tau, Om Huti bekerja di kapal, tapi entah sejak kapan beliau sudah tidak berlayar. Saya bertemu sangat jarag sejak saya pindah ke Cilegon sampai akhirnya tahun 2015 ketika saya mulai melakukan penelitian terkait Diabetes kami sering berjumpa lagi.Saat kami berjumpa lagi, saya baru mengetahui bahwa Om Huti juga sudah menjadi pasien Diabetes tipe 2. Tidak tahu apa penyebab utamanya, tapi saya memperkirakan dari gaya hidup, sama halnya dengan papi. Saat itu beliau masih sehat secara kasat mata. Beliau masih tetap berkegiatan secara aktif sehari-harinya mengurus guest house dan kegiatan lain yang saya sudah lupa secara spesifiknya. Secara keseluruhan, beliau tetap Om Huti yang super ramah, chubby, suka makan, dan sangat pintar memberi rekomendasi makanan, perbedaannya hanya beliau lebih mudah lelah dan harus suntik insulin.

Selama penelitian skripsi saya dari bulan April - Juni, minimal 1 kali seminggu saya ada dirumah mereka dan lebih tepatnya hampir tiap hari saya wira-wiri disana haha. Ke RSJ, ke dokter spesialis, ke dokter puskesmas, ke rumah-rumah pasien, semuanyaaa saya mulai atau berhenti dirumah mereka. Setelah saya didadar oleh psikiater, psikolog, dan perawat di RSJ dalam keadaan patah hati, saya cuma bisa muncul dirumah mereka dengan muka flat dan mereka sudah tau dengan pasti kondisi hati saya. Mereka hanya meminta saya untuk tidur dan ketika bangun, saya sadar matahari masih cerah, enggak sekelabu siangnya haha, dan langsung ngobrol dengan mereka berdua serta perencanaan penelitian berikutnya. Saya siap pulang ke Jogja dengan hati dan konsentrasi yang lebih baik.

Singkat cerita, 15 September 2015 skripsi saya sah disidangkan dan diterima dengan baik oleh penguji. Yang ingin saya telpon adalah mami, om huti dan tante endah, sama eyang. Udah. Pengen nangis rasanya aku berhasil menyelesaikan ini dengan pride! Penelitian ini juga yang mengajak saya untuk konfrensi internasional di China, yaa walaupun ga jadi berangkat karena mikirin yang lain, tapi saya puas sepuas-puasnya. Dukungan mereka total banget bagi saya menyelesaikan idealisme saya tentang psikologi dan kondisi penyakit kronis.

Sampai akhirnya saya sibuk sendiri dengan kerjaan di kantor dan sebagainya jadi jarang muncul dirumah lagi. Paling sebulan sekali, kadang lebih. Sampai akhirnya sekitar bulan Oktober saya dikabari mami bahwa Om Huti masuk RS untuk operasi. Saya bertemu dan hanya bisa berusaha menahan remuk hati melihat kondisi Om Huti. Om Huti udah ga jelas lihatnya, katanya cuma bayang-bayang aja. Kakinya sudah hitam, kulitnya sudah gosong seperti terbakar tapi bukan matahari, jarinya bahkan ada yg sudah mulai hilang. Tapi Om Huti tetap Om Huti, Tante Endah dan Uci tetap seperti mereka yang selama ini saya kenal. Mereka tetaplah keluarga saya tempat saya bisa menceritakan uneg-uneg kerjaan dan hidup. Mereka tetap melihat Kiki sebagai Kiki yang kecil tapi dewasa, mereka melihat saya sebagaimana saya aslinya. Mereka bilang jangan sering-sering dipaksain ke RS, kamu butuh istirahat, dsb, tapi hati siapa yag ga makin remuk kalau orang yang anda anggap sudah seperti Papa sendiri sakit seperti itu. Saat puji-pujian, saya menunggu di depan sambil ikut berdoa dengan cara saya. Yang saya tahu, semoga Allah selalu menjaga Om Huti dan keluarga.

24 Desember 2016, teman saya sangat ingin mengajak saya kerumah Om Huti. Katanya pengen ketemu dan kayaknya beliau rindu sama saya. Bodohnya, saya udah setuju tapi masih mikiiirrrr terus buat berangkat malam itu juga karena mikir itu udah jam 19.00 dna juga malam Natal karena pikiran saya mereka sedang kebaktian. Bodoh, sampai saat ini hanya kata-kata itu yang terus saya sesalkan bisa saya ucapkan pada diri saya.

Pertemuan selanjutnya, 2 Januari 2017 dirumah mereka yang lain, saya hanya dapat bertemu dengan tubuh Om Huti yang sudah dingin menggunakan jas di dalam peti. Saat menerima telpon bahwa Om Huti pergi, saya langsung memaksa untuk berangkat saat itu juga ke Magelang. Saya yang biasanya ribet baju, dandan, oleh-oleh, dsb, tidak ada pikiran apa-apa lagi. Saya hanya mau segera bertemu mereka. Dari parkiran, saya masih biasa saja, begitu menjejakkan kaki di pintu, tangis saya langsung pecah terutama ketika dipeluk oleh Tante Endah. Om Huti. Om Huti diam saja. Om Huti tidak menyambut saya dengan senyum dan pertanyaan khasnya "Sehat, ki? Udah makan? Capek kamu pasti". Om Huti tertidur dengan tenang di dalam. Saat saya menyentuh tangannya, rasanya saya ikhlas beliau melepaskan beban selama ini, tapi saya sedih dengan kehilangan sosok ayah lagi. Saya cuma bisa berharap Om Huti sudah bahagia disana. Om yang usap-usap kepala Kiki waktu proses mami & papi dan mengatakan keprihatinan serta kekhawatirannya. Om Huti yang selalu menjadi orang spesial dalam perjalanan hidup kami.

 Ah Lea, bisa-bisanya lupa bagaimana tingginya pravalensi kematian akibat penyakit Diabetes baik di Indonesia maupun dunia.



Komentar